29 Juli 2010

Ringannya Infaq Para Sahabat




"Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada ALLAH SWT, pinjaman yang baik
(menafkahkan hartanya dijalan ALLAH), maka ALLAH akan melipat gandakan
pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak Dan ALLAH menyempitkan
dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan"

(QS. Al-Baqarah : 245)

Suatu ketika, Rasulullah SAW membacakan ayat itu kepada para sahabat.
Tiba-tiba Abu Darda r.a. berdiri dan berkata, "Wahai Rasulullah, benarkah
ALLAH meminta pinjaman kepada kita?"

Rasulullah SAW menjawab, "Ya, benar."


Abu Darda kembali berkata, "Wahai Rasulullah, apakah Dia akan
mengembalikannya kepadaku dengan pengembalian yang berlipat-lipat?"

Rasulullah menjawab, "Ya, benar."

"Wahai Rasulullah, ulurkanlah kedua tangan Anda," pinta Abu Darda tiba-tiba.

Rasulullah balik bertanya, "Untuk apa?"

Lalu Abu Darda menjelaskan, "Aku memiliki kebun dan tak ada seorang pun yang
memiliki kebun yang menyamai kebunku. Kebun itu akan aku pinjamkan
kepada ALLAH."

"Engkau pasti akan menapatkan tujuh ratus lipat kebu yang serupa, wahai
Abu Darda," timpal Rasulullah SAW.

Abu Darda lalu mengucapkan takbir, "ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR !". Ia pun
langsung pergi ke kebunnya. Di sana, ia mendapat istri dan anaknya sedang
berada di dalam kebun itu. Saat itu anaknya sedang memegang sebutir kurma
yang sedang dimakannya.

"Wahai Ummu Darda, wahai Ummu Darda! keluarlah dari kebun itu. Cepat.
Karena kita telah meminjamkannya kebun itu kepada ALLAH !"
teriak Abu Darda.

Istrinya paham betul maksud perkataan suaminya. Maklum, ia seorang
muslimah yang dididik langsung oleh Rasulullah Muhammad SAW.
Segera ia beranjak dari posisinya. Ia keluarkan kurma yang ada
dalam mulut anaknya.

"Muntahkan ! Muntahkan ! Karena kebun ini sudah menjadi milik ALLAH SWT.
Ladang ini sudah menjadi milik ALLAH SWT," ujarny kepada sang anak.

Subhanallah! Begitulah Ummu Darda, seorang wanita yang begitu yakin
rezeki datang dari ALLAH SWT dan bersuamikan seorang sahabat Nabi yang
begitu yakin akan janji ALLAH SWT. Kalau saja para suami zaman sekarang
punya isteri seperti Ummu Darda, pasti mereka akan mudah saja berinfak
tanpa berpikir dua kali. Kalau saja para isteri zaman sekarang punya
suami model Abu Darda, pasti mereka akan mendapatkan kemuliaan dari
ALLAH.

Di tempat dan waktu yang lain, setelah Rasulullah SAW tiada,
Amirul Mukminin Umar bin Khatab r.a. menerima kiriman harta yang banyak
Beliau memanggil salah seorang pembantunya.

"Almbilah harta ini dan pergilah ke rumah Abu Ubaidah bin Jarrah,
lalu berikan uang tersebut. Setelah itu berhentilah sesaat di rumahnya
untuk melihat apa yang ia lakukan dengan harta tersebut,"
begitu perintah Umar kepadanya.

Rupanya Umar ingin melihat bagaimana Abu Ubaidah menggunakan hartanya.
Ketika pembantu Umar sampai di rumah Abu Ubaidah ia berkata,
"Amirul Mukminin mengirimkan harta ini untuk Anda, dan beliau juga
berpesan kepada Anda, 'Silahkan pergunakan harta ini untuk memenuhi
kebutuhan hidup apa saja yang anda kehendaki".

Abu Ubaidah berkata, "Semoga Allah mengarunianinya keselamatan dan
kasih sayang. Semoga ALLAH membalasnya dengan pahala yang berlipat."

Kemudia ia berdiri dan memanggil hamba sahaya wanitanya.
"Kemarilah. Bantu aku membagi-bagikan harta ini."

Lalu mereka mulai membagi-bagikan harta pemberian Ummar itu kapada
fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan dari kaum muslimin,
sampai seluruh harta ini habis diinfakkan.

Pembantu Umar pun kembali pulang. Umar pun memberinya uang sebesar
empat ratus dirham seraya berkata, "Berikan harta ini kepada
Muadz bin Jaba!" Umar ingin melihat apa yang dilakukan Muadz
dengan harta itu. Maka, berangkatlah si pembantu menuju rumah
Muadz bin Jabal dan berhenti sesaat dirumahnya untuk melihat
apa yang dilakukan Muadz terhadap harta tersebut.

Muadz memanggil hamba sahayanya. "Kemarilah, bantu aku membagi-bagikan harta ini!".
Lalu Muadz pun membagi-bagikan hartanya kepada fakir miskin dan mereka
yang membutuhkan dari kalangan kaum muslimin hingga harta itu habis
sama sekali dibagi-bagikan. Ketika itu istri Muadz melihat dari dalam rumah,
lalu berkata, "Demi Allah, aku juga miskin". Muadz berkata
"Ambilah dua dirham saja".

Pembantu Umar pun pulang. Untuk ketiga kalinya Umar memberi empat ribu dirham,
lalu berkata, "Pergilah ke tempat Saad bin Abi Waqqash!" Ternyata Saad pun
melakukan apa yang dilakukan oleh dua sahabat sebelumnya. Pulanglah sang
pembantu kepada Umar dan menceritakan pengalamnya. umar menangis dan berkata,
"Alhamdulillah, segala puji bagi ALLAH."

Begitulah para sahabat ketika mendapat harta. Tak sampai sehari harta itu
diinfakkan dengan begitu ringannya.

Di tempat dan waktu lain lagi, Thalhah bin Ubaidillah r.a. pulang ke rumah
dengan membawa uang seratus ribu dirham. Anehnya, sang isteri malah melihat
raut wajah Thalhah begitu bersedih.

"Apa yang terjadi padamu, wahai suamiku?" katanya.

Thalhah menjawab, "Harta yang banyak ini, aku takut jika bertemu dengan ALLAH,
lalu aku ditanya tentang dirham ini satu-persatu."

Istrinya menimpali, "Ini masalah yang sangat mudah. Mari kita bagi-bagikan
harta ini. Bawalah harta ini dan bagikan kepada fakir miskin yang ada di
Kota Madinah."

Thalhah pun bersama istrinya meletakkan harta itu d sebuah wadah, lalu
membagi-bagikan kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan.
Setelah itu ia kembali ke rumah dan berkata, "Alhamdulillah, segala puji bagi
Allah yang telah menjadikan diriku bertemu dengan-Nya sedangkan aku dalam
keadaan bersih dan suci."

Subhanllah, betapa ringannya para sahabat Rasul ini menginfaqkan harta
mereka. Bagaimana dengan kita?







Tidak ada komentar:

Posting Komentar